Di dalam kamar, saya hanya mendengar pembicaraan mereka, hanya saja samar-samar. Lagipula saat itu saya ngantuk. Beberapa saat kemudian, Ibuku datang ke kamar, menceritakan pembicaraannya dengan orang itu.
Kaget...
Ibu bertanya, "kamu kenal dia?"
Saya hanya geleng-geleng kepala.
Lantas Ibu memaksa saya menemuinya.
Dia adalah seorang laki-laki muda, mungkin lebih muda setahun atau dua tahun dari saya. Tinggi 175 cm, setinggi adekq, kulit kuning bersih dan sepertinya sama denganku, habis traveling dari jauh:)
Saya belum pernah bertemu dengannya.
Dia mengutarakan maksud dan tujuannya.
Dia berkata tanpa memandangku.
Wow..keren banget ni orang.
Tinggi 175 cm berat badan 70 kg, berat yang ideal bukan? Apalagi ditambah senyamnya yang manis:)
Perkataannya sopan dan sedikit grogi.
Hanya menandakan bahwa dia benar-benar serius.
Mendengar pembicaraannya yang lugas dan jelas ditambah sedikit gurauan sana sini membuat saya sedikit nyaman.
Setelah itu, saya hanya mengambil nafas panjang sebelum berkata-kata.
"Tahu darimana tentang saya?"
Dia hanya tersenyum dan bilang, " Saya pernah bertemu mbak di toko buku sedang membaca dan memilih buku menjadi istri yang solihah"
Sepertinya saat itu saya sedang mencari kado temen yang mau nikah. Gumamku dalam hati.
Hmmm...
Pertanyaan selanjutnya adalah, " kapan siap nikahnya?"
Jleb saya harap dia kehabisan kata-kata dengan pertanyaan ini.
Ternyata dia hanya menjawab dengan senyumannya dan bilang, "as soon as possible"
Wow..jawaban yang amazing....
Kali ini saya yang kehabisan kata-kata.
Sambil menarik nafas panjang, saya hanya bilang, "Mengapa saya?"
Tetap dengan senyumnya yang manis dia bilang," karena mbak bisa menjaga diri dan belajar menjadi istri solehah sebelum jadi istri"
Hmmm...saya benar-benar kehabisan kata-kata.
Akhirnya saya bilang, " Ijinkan saya berfikir selama 1 minggu untuk mendapatkan jawabannya"
Tetap dengan senyumannya, " terima kasih mbak mau mempertimbangkan saya"
Tidak lama kemudian adik laki-laki saya datang. Saya memperkenalkannya pada adik saya.
Oh ya sebelum pulang, saya mau mengajakmu ke suatu tempat.
Dia bingung tapi ngikut saja.
Kami bertiga (saya, adek, dan dia) berjalan kaki kira-kira 5 menitan.
Saya membawanya ke sarean bapak.
Dia kaget dan bingung. Tapi tetap ngikut saja. Sampai disana, kami bertiga hanya terdiam dan berdoa.
Dalam hati saya bilang..
"Bapak, dia adalah laki-laki asing pertama yang saya bawa kesini. Saya tidak mengenalnya. Tapi sepertinya dia benar-benar serius, karena dia berani dtg ke rumah tanpa menemui atau menghubungi saya, makanya saya bawa kesini. Saya hanya minta bapak mendoakan saya, supaya saya didekatkan dengan orang baik dan dijauhkan dari orang jahat. Doakan saya supaya dapat imam dan suami yang terbaik untuk agama, dunia dan akhiratku..aamiin"
Selama disana, kami bertiga hanya saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kami pun pulang dan dia hanya berkata sebelum pulang
"Ini kartu nama saya mbak, disitu ada no hp saya, saya tunggu jawabannya seminggu lagi."
Sesampainya di rumah, tetep ibu dan adek ngobrol tentang dia. Sebelumnya saya bilang ke ibu supaya tidak "ember" ke orang-orang.
"Bu, saya harap, ibu tidak menceritakan hal ini ke orang-orang, supaya ibu tidak malu kalau tidak jadi. Dia orang asing dan kami hanya sekali ini bertemu."
Ibu setuju.
Selama seminggu, saya istikharah dan belum menemukan jawabannya. Masih 23 jam lagi deadlinenya.
Di kartu namanya tertera pekerjaannya adalah dosen/pengajar, saya lihat alamat emailnya. Disitu kemungkinan saya bisa ngepo-in fb atau twitternya.
Dan benar fb dan twitternya menggunakan alamat email yang sama. Dia jarang sekali update status dan ngetweet. Hanya sesekali. Tapi yang membuatku salut adalah banyak temen2nya ngewall atau ngetweet dia. Kebanyakan adalah cerita-cerita ngebanyol. Dari pp fb nya saya merasa dia mirip seseorang yaitu Rory Asyari presenter acara 8-11 metro tv ditambah dengan senyumnya yang manis hehe:)
Sekali lagi saya istikharah untuk memastikan, dan saya pasrah dengan jawabannya.
"Ya Allah, jika dia yang terbaik untuk agama, dunia, dan akhiratku, permudah jalan kami, halalkanlah kami dan ridhoilah kami. Namun jika bukan dia, jauhkanlah dia dariku dan gantikanlah dia dengan yang lebih baik dan terbaik. Saya hanya ingin menikah dengan ridhoMu aamiin."
Bismillah.
Saya bilang ke Ibu bahwa saya menerimanya dan berharap Ibu setuju.
"Assalamualaikum, saya ingin melanjukan ke tahap pernikahan. Semoga anda bisa menyegerakannya, terima kasih."
To the poin banget:)
Tidak ada balesan sms dari dia.
Namun 2 jam kemudian dia hanya membalas, "Ok"
Seminggu berlalu, tidak ada sms atau telp menanyakan kelanjutannya.
Saya hanya pasrah, toh sudah istikharah kan?
Namun beberapa jam kemudian, dia sms….
“Mbak, besok ada di rumah kan? Saya dan keluarga mau sowan.”
Deg…saya kaget. Dia bener-bener mau dateng. Saya bilang ke ibu.
“Mbak, hanya saya dan bapak ibu yang akan dateng, jadi ga usah persiapan apa-apa ya, terima kasihJ”
Tentu saja, Ibu heboh sekali dan diceritakannya ke saudara, dan saudara rencananya datang bawa makanan dan lain-lain.
Sedangkan saya, semaleman tidak bisa tidur.
Hari itu…
Ibu dan bapaknya datang, mananyakan kapan sebaiknya diselenggarakan pernikahan. Dan setelah berembug..hasilnya seminggu lagi akad nikah dan walimah di rumah saya..
Saya hanya menunduk, berusaha menahan haru, senang, sedih, bercampur aduk, di depan saya, seorang laki-laki menjabat tangan adek saya sekaligus wali dan mengucucapkan ijab qabul.
Samar-samar ada seorang yang mirip banget dengan bapak, datang dan duduk diantara para undangan.
Benar kata orang, jika ada yang menikah dan bapaknya sudah meninggal, maka pada saat ijab qabul, bapaknya akan hadir di sana dan tersenyum melihatnya.
Dan saya melihatnya.
Ijab qabul menggema di seluruh ruangan. Penduduk langit dan bumi menjadi saksi pernikahan kami. Dan saat setelah ijab qabul adalah pertama kali kami bersalaman. Tangannya hangat ditambah senyumnya manis sekali.
Setau saya, dia pribadi yang menyenangkan. Humoris, kocak. Mungkin karena background pendidikannya fisika, jadi orangnya lebih santai, tidak ribet. Dia sudah lama merantau, jadi dia tidak terlalu kaku untuk membantu saya mencuci piring atau baju jika saya banyak kerjaan. Dia selalu mengimami saya solat plus bacaannya bagus. Bedanya adalah…
Dia extrovert saya introvert
Dia ekspresif saya impresif
Dia sanguinis saya melankolis
Tapi itu justru seninya. Kami belajar dari Pak Habibie dan Ibu ainun bagaimana komunikasi antara orang ekstrovet dan introvert.
Persamaannya…
Kami sudah biasa memakai 3 kata ajaib:
Maaf walaupun tidak merasa bersalah
Terima kasih walaupun tidak merasa meminta
Tolong jika memerlukan bantuan
Ketiganya memang sudah menjadi keseharian kami sebelum menikah.
Setahu saya, dia memiliki “wow factor”
Dia bisa nyambung ngobrol dengan orang yang lebih tua ataupun lebih muda.Dia pribadi yang hangat, dibuktikan dengan banyak anak-anak kecil yang ngerubungi dia kalau ada didekatnya. Dia juga tidak canggung membantu orang lain. Makin lama makin jatuh cinta padanya:)
Sebulan kemudian saya hamil
Wow factor datang lagi.
Dia selalu mengelus-elus perut saya dan selalu membacakan cerita atau sekedar ngobrol dengan “dede” Sesekali membacakan surat Ar Rahman untuknya. Di senyumnanya menyiratkan bahwa dia sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah.
Tapi saya rasa, saya yang lebih berbahagia karena bisa mendampinginya dan menjadi ibu dari anaknya:)
Saat hamil, dia tidak canggung membantu saya di dapur atau membereskan rumah, ataupun hanya memijit kaki saya yang bengkak:)
Saat melahirkan, dia juga tidak canggung menggendong atau mengganti popok.
Hmmm…
How lucky I am…
Dia adalah…suami yang terbaik untukku
Ayah yang terbaik untuk anak-anakku
Menantu yang terbaik untuk ibuku
Dan kakak ipar terbaik untuk adik-adikku
Dia adalah nice person with a nice smile:)
No comments:
Post a Comment